LllmBANTEN, Lapornews - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) akhirnya mencapai klimaks. KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031.
Terpilihnya Gus Kikin menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Dalam proses pemilihan, Gus Kikin memperoleh 472 suara, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU melalui mekanisme yang telah disepakati dalam Muktamar.
Atas suksesnya pelaksanaan Muktamar NU ke-35 sekaligus terpilihnya Gus Kikin sebagai nahkoda baru PBNU, Tomy Suherman menyampaikan ucapan selamat.
“Selamat atas suksesnya Muktamar NU ke-35. Selamat kepada Gus Kikin yang telah dipercaya memimpin PBNU untuk masa khidmah 2026–2031. Semoga amanah dan mampu membawa NU semakin kuat, mandiri, serta memberikan manfaat yang luas bagi umat dan bangsa,” ujar Tomy.
Menurut Tomy walaupun dirinya hanya sebagai kader penggerak di kabupaten Tangerang ,terpilihnya Gus Kikin menjadi hal yang menarik karena perjalanan hidupnya tidak semata-mata dibentuk dari ruang organisasi atau lingkungan pesantren. Ia memiliki pengalaman yang cukup beragam, mulai dari dunia pelayaran, bisnis, hingga perjalanan panjang di tubuh NU.
Gus Kikin lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958. Ia merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum. Dari garis keturunan ibunya, Gus Kikin merupakan cicit KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Namun, latar belakang keluarga tersebut tidak serta-merta membuat Gus Kikin menjalani kehidupan yang hanya berkutat di lingkungan pesantren. Ia pernah menjadi pelaut dan menghabiskan waktu di tengah lautan sebelum kemudian dipercaya menduduki sejumlah posisi di PT Djakarta Lloyd, antara lain sebagai Kepala Cabang Cilegon dan Pimpinan Harian Cabang Medan.
Pengalaman tersebut kemudian berlanjut ke dunia usaha. Gus Kikin dikenal sebagai pengusaha di sektor minyak dan gas bumi melalui PT Energi Mineral Langgeng yang mengelola South East Madura Block.
“Kalau melihat perjalanan hidupnya, Gus Kikin punya pengalaman yang cukup lengkap. Santri, akademisi, pengusaha, pernah menjadi pelaut, dan memiliki perjalanan panjang di NU. Ini menjadi modal tersendiri untuk memimpin organisasi sebesar Nahdlatul Ulama,” kata Tomy.
Gus Kikin juga menyelesaikan pendidikan Sarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka. Di lingkungan NU, kiprahnya berlangsung cukup panjang namun relatif jauh dari hiruk-pikuk politik organisasi.
Ia tercatat pernah menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur selama sekitar 14 tahun. Setelah itu, Gus Kikin dipercaya menjadi Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur dan kemudian terpilih secara definitif melalui Konferwil XVIII PWNU Jawa Timur.
Perjalanan panjang tersebut akhirnya mengantarkan Gus Kikin ke tingkat kepemimpinan tertinggi NU.
Tomy menilai, amanah sebagai Ketua Umum PBNU bukanlah pekerjaan ringan. NU merupakan organisasi besar dengan jutaan warga dan jaringan yang tersebar luas di berbagai daerah.
“Ibarat kapal raksasa, NU sedang berlayar menghadapi ombak zaman yang terus berubah. Kapalnya besar, penumpangnya jutaan, dan tantangannya juga semakin kompleks. Karena itu, dibutuhkan nahkoda yang mampu menjaga arah pelayaran agar tetap berada pada jalurnya,” tuturnya.
Ia berharap seluruh keluarga besar NU dapat menjaga persatuan setelah Muktamar berakhir. Menurutnya, kompetisi dalam forum Muktamar merupakan bagian dari dinamika organisasi, tetapi setelah keputusan diambil, seluruh elemen NU perlu kembali bersatu untuk menjalankan agenda organisasi.
“Kaptennya sudah terpilih. Sekarang saatnya seluruh penumpang bersama-sama menjaga kapal besar NU agar tetap berlayar dengan baik. Jangan sampai energi habis hanya karena semua ingin menjadi kapten,” ujar Tomy.
Tomy juga berharap kepemimpinan Gus Kikin selama masa khidmah 2026–2031 dapat memperkuat konsolidasi organisasi, menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus menjawab tantangan baru yang dihadapi masyarakat.
“Selamat Gus Kikin. Selamat menahkodai kapal besar."pungkasnya.(Ril/Red)
