Anggaran Fantastis untuk Penataan UPTD Benih Kampung Melayu Dipertanyakan: Apa Urgensinya?. -->
PASANG IKLAN

Anggaran Fantastis untuk Penataan UPTD Benih Kampung Melayu Dipertanyakan: Apa Urgensinya?.

Jumat, 21 Agustus 2026

Foto: Aktivis Muda dari Tangerang Utara, Edwin Purnama.(ist)

KABUPATEN TANGERANG, (LN) - Anggaran yang Pantastis untuk penataan lingkup UPTD Produksi Benih Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan di Kampung Melayu, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, dipertanyakan aktivis muda Tangerang Utara.

Sorotan tersebut mencuat setelah muncul data pengadaan yang mencantumkan kegiatan Penataan Lingkup UPTD Produksi Benih Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kampung Melayu, Kecamatan Teluknaga, pada Dinas Tata Ruang dan Bangunan Kabupaten Tangerang dengan nilai sekitar Rp5 miliar.

Aktivis muda asal Tangerang Utara, Edwin, meminta Pemerintah Kabupaten Tangerang tidak hanya menjelaskan kegiatan tersebut dari sisi administratif, tetapi juga membuka alasan kebutuhan, rincian pekerjaan, dasar penganggaran, serta target manfaat yang hendak dicapai. Kamis (20/8/2026)

Menurut Edwin, pertanyaan publik bukan semata-mata soal besar kecilnya anggaran. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah apakah belanja Rp5 miliar tersebut memiliki urgensi yang jelas dan berbanding lurus dengan manfaat yang akan diterima masyarakat.

“Kalau benar anggarannya mencapai sekitar Rp5 miliar, pemerintah daerah harus mampu menjelaskan secara terbuka apa urgensinya, apa yang ditata, berapa volume pekerjaannya, bagaimana perhitungan anggarannya, dan apa target manfaatnya bagi masyarakat,” ujar Edwin.

Jangan Sampai Sekadar Serapan Anggaran 

Edwin menilai setiap belanja pemerintah daerah harus dapat di pertanggung jawabkan bukan hanya dari sisi administrasi, tetapi juga dari sisi efektivitas dan hasil. Jangan Sampai Sekadar Serapan Anggaran.

Menurutnya, pemerintah harus mampu menjawab sejumlah pertanyaan sederhana: mengapa fasilitas tersebut perlu ditata, apa kondisi sebelumnya, persoalan apa yang hendak diselesaikan, berapa kapasitas fasilitas setelah ditata, dan apa indikator keberhasilannya?

“Jangan sampai pemerintah hanya mengatakan ini kegiatan penataan, lalu publik diminta percaya begitu saja. Yang harus dibuka adalah urgensinya. Apa masalah sebelumnya? Apa kondisi sarana yang membutuhkan penataan? Apa indikator keberhasilannya setelah anggaran miliaran rupiah itu dibelanjakan?” tegasnya.

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena UPTD produksi benih memiliki fungsi yang berkaitan langsung dengan sektor pertanian, terutama pembibitan, perbanyakan tanaman dan penyediaan benih.

Kajian mengenai balai benih di Banten juga pernah mencatat keberadaan balai benih Kabupaten Tangerang di kawasan Teluknaga dan Kampung Melayu. Kajian tersebut menunjukkan bahwa fungsi dan kapasitas balai benih merupakan bagian penting dalam sistem penyediaan benih bagi petani.

Namun, justru karena fungsi tersebut strategis, Edwin menilai investasi terhadap fasilitas UPTD semestinya memiliki ukuran kinerja yang konkret.

“Kalau setelah ditata kemudian produksi benih meningkat signifikan, distribusi kepada petani jelas, ada target produksi, dan manfaat ekonominya bisa diukur, tentu masyarakat bisa memahami. Tetapi kalau hanya bagus secara fisik sementara output-nya tidak jelas, ini yang patut dipertanyakan,” katanya.

Di Tengah Penyusutan Lahan Pertanian

Sorotan Edwin juga dikaitkan dengan kondisi Tangerang Utara yang mengalami perubahan tata ruang dan tekanan alih fungsi lahan.

Menurut dia, ketika lahan pertanian semakin terdesak oleh perkembangan kawasan industri, pergudangan, perumahan dan kegiatan ekonomi lainnya, pemerintah justru harus semakin selektif dalam menentukan prioritas belanja sektor pertanian.

Ia mempertanyakan apakah penataan fasilitas UPTD senilai miliaran rupiah tersebut telah disertai kajian kebutuhan dan target peningkatan produksi yang memadai.

“Kita melihat banyak lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi kawasan industri, pergudangan dan perumahan, khususnya di wilayah Utara Kabupaten Tangerang. Karena itu, setiap anggaran untuk sektor pertanian harus benar-benar punya arah dan manfaat yang jelas,” ujarnya.

Edwin bahkan meminta pemerintah menjelaskan secara terbuka dasar penetapan kegiatan tersebut agar tidak muncul persepsi di tengah masyarakat bahwa proyek benih tersebut.

Menurutnya, semakin besar nilai anggaran yang digunakan, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan masyarakat dapat mengetahui alasan, proses dan hasil penggunaannya.

“Publik hanya ingin satu hal: uang rakyat digunakan secara tepat sasaran. Kalau programnya memang penting, jelaskan. Kalau anggarannya wajar, buka perhitungannya. Dan kalau hasilnya bagus, tunjukkan capaian kinerjanya. Sederhana,” pungkas Edwin. (Red)