Oleh: Ma’shum Jamil, SE, SH, MM. Sekda forkabi kabupaten tangerang, Dosen Peneliti dan Pemerhati Sosial Pembangunan.(12/8/2026)
Saat ini, Wilayah Tangerang sedang bergerak sangat cepat. Kawasan industri tumbuh, perumahan baru bermunculan, pusat perdagangan berkembang, infrastruktur terus dibangun, dan arus penduduk dari berbagai daerah semakin deras. Tangerang hari ini bukan lagi sekadar wilayah penyangga Jakarta.
Ia telah berkembang menjadi salah satu kawasan strategis dengan dinamika sosial dan ekonomi yang sangat besar. Namun, di tengah perubahan tersebut, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bersama, Di mana posisi masyarakat lokal, khususnya masyarakat Betawi Tangerang, dalam perubahan besar tersebut?, Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan antara masyarakat lokal dengan pendatang. Tangerang adalah rumah bersama. Siapa pun yang tinggal, bekerja, belajar dan membangun kehidupan di Tangerang merupakan bagian dari masyarakat Tangerang.
Justru karena itulah identitas lokal harus dipandang sebagai kekayaan bersama, bukan sebagai penghalang pembangunan.
Menjaga Identitas Bukan Berarti Menolak PerubahanSering kali pelestarian budaya dipahami sebatas mempertahankan kesenian tradisional, pakaian adat, makanan khas, atau kegiatan seremonial.
Semua itu penting. Tetapi menjaga identitas masyarakat Betawi tidak cukup hanya dengan mempertahankan simbol-simbol budaya.Identitas juga menyangkut nilai, karakter, solidaritas, gotong royong, kepeduliadi n terhadap lingkungan sosial, penghormatan kepada orang tua, semangat kebersamaan, serta kemampuan masyarakat untuk berdiri dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Karena itu, masyarakat Betawi Tangerang tidak boleh hanya menjadi penonton pembangunan.
Masyarakat lokal harus menjadi bagian dari proses pembangunan itu sendiri.
Mereka harus memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, mengembangkan usaha, mendapatkan pekerjaan, membangun ekonomi keluarga, serta mengambil bagian dalam berbagai sektor pembangunan.
Di sinilah organisasi masyarakat seperti FORKABI memiliki tantangan sekaligus tanggung jawab yang besar. Dari Organisasi Massa Menjadi Kekuatan Sosial. KmnFORKABI tidak cukup hanya hadir ketika ada kegiatan sosial, budaya, atau momentum tertentu. Lebih jauh dari itu, organisasi masyarakat harus mampu menjadi kekuatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
FORKABI Tangerang harus mampu membangun komunikasi dengan berbagai pihak: pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, tokoh masyarakat, generasi muda, pelaku UMKM, komunitas budaya, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Semangatnya bukan untuk mengambil ruang siapa pun. Sebaliknya, semangatnya adalah membangun kolaborasi.
Organisasi masyarakat akan memiliki makna ketika keberadaannya mampu menjawab persoalan masyarakat.
Ketika ada anak muda yang membutuhkan ruang untuk berkembang, organisasi harus hadir.
Ketika ada pelaku UMKM yang membutuhkan akses pemasaran, pendampingan dan jejaring, organisasi harus mampu membantu membuka jalan.
Ketika budaya lokal mulai terpinggirkan, organisasi harus ikut merawatnya.
Dan ketika masyarakat menghadapi persoalan sosial, organisasi harus menjadi bagian dari solusi.Generasi Muda Harus Menjadi Prioritas
Salah satu tantangan terbesar masyarakat Betawi Tangerang adalah bagaimana mempersiapkan generasi mudanya menghadapi masa depan. Kita tidak boleh hanya bertanya apakah generasi muda masih mengenal budaya Betawi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah generasi muda Betawi memiliki pendidikan yang cukup?, Apakah mereka memiliki keterampilan? Apakah mereka mampu bersaing di dunia kerja?, Apakah mereka mampu menjadi pengusaha?, Apakah mereka menguasai teknologi digital?, Sebab budaya yang tidak diwariskan kepada generasi muda akan kehilangan masa depannya.
Karena itu, pelestarian budaya harus berjalan bersama dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Anak muda Betawi Tangerang harus didorong menjadi sarjana, profesional, pengusaha, teknokrat, seniman, akademisi, birokrat, dan pemimpin masa depan.
Mereka harus bangga dengan identitasnya, tetapi pada saat yang sama memiliki kemampuan untuk bersaing secara global. Menjadi Betawi tidak boleh berarti tertinggal. Sebaliknya, identitas Betawi harus menjadi sumber kebanggaan untuk melangkah lebih jauh. Budaya Harus Bisa Menjadi Kekuatan Ekonomi
Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap kebudayaan.
Budaya bukan hanya sesuatu yang dipentaskan pada acara tertentu. Budaya juga memiliki potensi ekonomi. Kuliner Betawi dapat dikembangkan menjadi produk UMKM. Kesenian dapat menjadi bagian dari industri kreatif. Sejarah dan tradisi lokal dapat dikembangkan menjadi wisata budaya. Produk kerajinan dapat dipasarkan melalui platform digital.
Dengan kreativitas dan teknologi, budaya lokal dapat memiliki pasar yang lebih luas.
Bayangkan jika anak-anak muda Tangerang membuat konten digital tentang sejarah kampungnya, kuliner Betawi, permainan tradisional, cerita tokoh masyarakat, atau kesenian lokal.
Apa yang sebelumnya hanya dikenal di satu kampung, bisa dikenal di seluruh Indonesia bahkan dunia.
Di sinilah perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan organisasi masyarakat dapat berkolaborasi.
Tangerang Membutuhkan Kolaborasi
Pembangunan daerah tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah sendirian.
Dunia usaha memiliki sumber daya ekonomi. Perguruan tinggi memiliki ilmu pengetahuan.
Organisasi masyarakat memiliki jaringan sosial. Tokoh masyarakat memiliki pengalaman dan legitimasi sosial.
Generasi muda memiliki kreativitas dan energi.
Jika seluruh kekuatan tersebut dipertemukan, maka pembangunan Tangerang akan memiliki fondasi sosial yang lebih kuat. Karena itu, FORKABI Tangerang harus membuka ruang komunikasi dan kolaborasi seluas-luasnya. Kita tidak perlu membangun tembok antara “masyarakat lokal” dan “masyarakat pendatang”.
Yang perlu dibangun adalah jembatan.
Tangerang harus menjadi rumah bersama yang tetap menghargai akar sejarah dan budaya masyarakat lokal.
Menjaga Akar, Membuka Sayap
Saya melihat masa depan masyarakat Betawi Tangerang bukan dengan rasa takut terhadap perubahan.
Perubahan adalah keniscayaan.
Yang harus kita lakukan adalah memastikan bahwa perubahan tersebut memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Kita harus tetap memiliki akar, tetapi juga harus berani membuka sayap.
Akar adalah identitas. Sayap adalah kemampuan untuk berkembang.
FORKABI Tangerang harus mampu berdiri di antara keduanya: menjaga identitas sekaligus mendorong kemajuan.
Karena mempertahankan budaya bukan berarti kembali ke masa lalu.
Mempertahankan budaya berarti membawa nilai-nilai terbaik dari masa lalu untuk menjadi bekal menghadapi masa depan.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah organisasi masyarakat bukan diukur dari seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.
Dan cita-cita kita sederhana:
Masyarakat Betawi Tangerang tetap memiliki identitas, tetapi tidak kehilangan kesempatan untuk maju.
Generasi mudanya tetap mengenal akar budayanya, tetapi mampu bersaing di era global.
Tangerang terus berkembang, tetapi masyarakat lokal tidak ditinggalkan oleh pembangunan. Dari sinilah FORKABI Tangerang harus melangkah.
Dari menjaga identitas, menuju membangun masa depan.(*)
